Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tauhid. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Mei 2016

Dengan Doa, Ndak Perlu Mantra.

Rumah angker, atau melintas di tempat angker? Jangan kawatir, ndak usah panggil mbah dukun atau baca mantra atau pakai ajimat, percayakan semuanya kepada Allah, dengan membaca doa berikut:
أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ
"Aku berlindung dengan Kalimat-kalimat Allah Yang Maha Sempurna dari segala kejahatan segala makhluq yang Ia ciptakan"

Sahabat Khaulah binti Hakim radliallahu ‘anha menuturkan :
سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: (من نزل منـزلاًفقال: أَعُوذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَّاتِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ، لم يضرَّه شيئ حتَّى يرتحل من منـزله ذلك)، رواه مسلم.
“Aku mendangar Rasulullah bersabda :”Barang siapa yang singgah di suatu tempat, kemudian mengucapkan doa’ : Aku berlindung dengan Kalimat-kalimat Allah Yang Maha Sempurna dari segala kejahatan yang Ia ciptakan, maka ia tidak akan diganggu oleh sesuatu apa pun, sampai ia meninggalkan tempat tersebut”, (Hadits riwayat Muslim)
Tinggalkan dukun, mantra, ajimat dan yang serupa, segera percayakan segala urusan anda kepada Allah Ta'ala, beres deh.

 sumber : ustadz Muhammad Arifin Badri

Senin, 16 Mei 2016

Menyembah Manusia, Namun Ndak Merasa.

Suatu hari sahabat Adi bin Hatim radhiallahu 'anhu mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membaca ayat :
( اتَّخَذُواْ أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللّهِ )
“Mereka menjadikan ulama’-ulama’ dan pendeta-pendeta mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah ” (Surat At Taubah 31),

Merasa ada yang janggal dan kurang sesuai dengan apa yang ia alami semasa menjadi pemeluk agama Nasrani, segera ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dengan berkata:
Sesungguhnya dahulu kami tidak pernah menyembah para pendeta dan ahli ibadah di antara kami.
Menanggapi pertanyaan sahabatnya ini, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
( أَلَيْسَ يُحَرِّمُونَ مَا أَحَلَّ اللهُ فَتُحَرِّمُونَهُ، وَيُحِلُّونَ مَا حَرَّمَ الله فَتُحِلُّونَهُ؟!)
”Bukankah mereka mengharamkan sesuatu yang Allah halalkan, kemudian kalianpun turut mengharamkannya, dan mereka menghalalkan sesuatu yang Allah haramkan, lalu kalianpun turut menghalalkannya?!”
Sahabat Adi menjawab : Benar.
Selanjutnya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
(فَتِلْكَ عِبَادَتُهُمْ)
”Itulah wujud peribadatan kepada mereka”. (Hadits riwayat Ahmad dan At Tirmizi).
Jadi, melek dalil dan melek argumentasi tuh penting, ndak asal nurut agar tidak terjerumus dalam praktek kultus buta kepada sesama manusia, yaitu dengan mengikuti pendapat tokoh yang telah terbukti secara meyakinkan menyimpang dari dalil. Bila ndak, maka ngaku atau ndak ngaku, sadar atau ndak sadar, berniat atau ndak berniat, maka sejatinya telah terjerumus pada praktek penyembahan sesama manusia.

sumber : ustadz Dr Muhammad Arifin Badri