Minggu, 17 Juli 2016

WAHABI itu bla...bla..bla..


Bacanya pegel sangattss, tapi..
Masyaa Allah..!
Rugi kalo gak baca (nhc) 👌🍹
Pertamakali saya tahu kajian-kajian salafi (wahabi–red) itu sekitar 2006. Pas kuliah di Jogja. Sebelum itu saya fanatik dengan agama lokal dari kampung halaman di Situbondo. Jadi, pas awal pindah ke Jogja dan tinggal di rumah nenek, saya nggak mau jumatan di mesjid dekat rumah, sebab adzannya 1x, nggak kayak di kampung halaman, adzan 2x, khotibnya pegang tombak, dan sebelum khotbah biasanya ada salah 1 jamaah yang berdiri terus bilang “Yaa ma’syarol muslimin…” dst..
Ketika tahu mesjid dekat rumah nggak seperti itu, saya nggak mau jumatan di situ, memilih jalan jauh ke mesjid kampus UGM, padahal ya sama saja adzannya juga 1x, tapi saya sudah terlanjur “alergi” dengan orang-orang di mesjid deket rumah itu, mereka pakai celana cingkrang, jenggotan. Hih. Ogah, mending ke mesjid kampus UGM yang jamaahnya lebih umum, masih ada yang pake celana jin.
Waktu itu saya tahunya mereka yang cingkrang itu Muhammadiyah…

Dan menurut ajaran dari kampung, Muhammadiyah itu nggak tahlilan, sementara kita NU tahlilan.
Gitu aja definisinya, tanpa ada niat nyari tahu kok bisa beda?
Kan pasti ada alasannya? Lalu yang lebih mendekati kebenaran yg mana?
Nggak ada pikiran semacam itu. Pokoknya kalau sudah lahir di keluarga NU ya sudah ikut saja. Apalagi sejak kecil sudah dibangun sentimentalisme kefanatikan seolah Muhammadiyah itu aneh.
Ke-alergian terhadap orang-orang di mesjid dekat rumah itu berlangsung sekitar 2 tahun. Sampe suatu masa, di Jogja lagi rame kasus mahasiswa yang tiba-tiba direkrut oleh semacam gerakan baiat gitu, sehingga tiba-tiba nggak mau ngobrol sama orangtuanya karena orangtua dianggap kafir (naudzubillah).
Pokoknya entah aliran apa namanya, NII apa ya? Wuih itu ngeri. Teman sekelas saya, cewek, ada yang kena gerakan itu. Bahwa Indonesia bukan negara islam, kita harus bikin negara islam, bla bla bla…
Saya lalu berhati-hati. Kalau kebetulan ke kampus MIPA selatan, di seberang kampus ada masjid Al Hasanah, di mesjid itu perempuannya pakai cadar hitam-hitam, saya sering bilang, “Itu pasti yang aliran sesat.”
Di periode itu, model ikhwan-akhwat dalam sebuah wadah bernama liqo’ juga mulai menjamur di kampus. Ada seorang sahabat yang keren digandrungi akhwat-akhwat, dia kalo lagi nggak ada jam kuliah nongkrongnya di musholla, ngobrol sama akhwat di balik hijab. Saya iri, kan kepingin juga didekatin cewek-cewek.
Apalagi waktu itu ada akhwat yang cantik sekali, yang membuat saya tahu diri, siapalah saya ini, jenggot tipis aja nggak punya, nggak ada potongan seorang ikhwan….
Namun demi mendapat perhatian, itu jadi semacam titik tolak untuk berniat belajar agama (nggak ikhlas banget niatnya…)
Saya segera rajin lihat papan pengumuman yang terpajang di musholla. Lihat ada poster acara apa yang berhubungan dengan agama.
Nyari yang gratisan.
Maka, acara agama yang pertama saya datangi itu acaranya Hizbut Tahrir, dalam keadaan saya awam tentang kelompok ini, yang penting kan datang aja biar keren dan kelihatan alim dapat sertifikat.
Waktu itu acaranya di Aula Fakultas Pertanian. Jadi bukan mesjid, melainkan kayak seminar, duduk di bangku-bangku kuliah, ada meja-meja melingkar dibikin kelompok, lalu ada layar proyektor, slide, gitu-gitu, endingnya pesertanya dapat CD. Saya gak paham apa yang disampaikan, tiba-tiba disuruh diskusi, ada makan siang, yang penting datang aja biar keren.
Esoknya di kampus, saya tunjukkan CD dan sertifikat ke sahabat saya yang digandrungi akhwat itu, pamer: nih saya juga tahu datang seminar islam…
Dia malah kaget, “Lho, kamu datang ke acaranya HTI?” Mendengar pertanyaan itu, saya balik kaget, “Lho kenapa ya emangnya?”
Sejak itu, saya tahu kalau ada banyak kelompok-kelompok kaum muslimin, saya kira cuma Muhammadiyah dan NU. Ternyata ada HTI, ada Ikhwanul Muslimin (IM), NII, LDII, MTA..
Nah yang liqo’ ini ujungnya saya tahu afiliasi mereka ke IM.
Saya mulai mempelajari masing-masing perbedaan antar kelompok, mengenal tokoh-tokoh mereka. Jadi tahu oh ternyata HTI itu tujuannya gini, cirinya gini, IM itu gini, cirinya gini. Saya kadang datang ke obrolannya anak IM, kadang ngobrol dengan anak HTI, pokoknya yang obrolannya agama, ikut nimbrung….
Namun saya mesti berpikir rasional, bahwa pasti ada alasan kenapa kelompok ini begini, kelompok itu begitu, mesti diuji materi, sehingga bisa ketahuan mana yang setidaknya paling bisa saya percaya. Bukan lantas tidak mau repot-repot, ya sudahlah mereka bisa benar, kita bisa benar, yang tahu kebenaran hanya Allah. Wis, lalu jadilah paling toleran, simsalabim, islam nusantara… Nggak gitu, kalo gitu sih nggak perlu ada dakwah saja, nggak perlu diutus Nabi dan Rasul, nggak perlu diturunkan AlQur’an, biar aja setiap manusia percaya dengan keyakinan sendiri-sendiri…
Dalam dunia eksak, selama segala hal yang berbeda bisa dicari pemecahannya, mana yang lebih valid, maka dicari. Bahkan kalo bisa yang berbeda-beda itu diajak bersatu. Sehingga logikanya, bersatu di atas landasan yang kokoh. Bukan sengaja berbeda lalu pura2 bersatu saling toleransi padahal saling sikut. “Kau sangka mereka bersatu padahal hati mereka berpecah belah,” kata ayat dalam Al Qur’an.
Sekarang kan apa-apa ditoleransi, ada kelompok yang penentuan Idul Fitrinya berdasarkan pasang surut air laut, ditoleransi, ada orang ngaku jadi Nabi, ditoleransi, besok ada yang sholat dhuhur 8 rokaat pun pasti ditoleransi. Lha ya udah rusak dakwah ini, tiap mau bilang, “eh ini nggak boleh,” dibales, “kamu merasa bener sendiri, menyesat-nyesatkan orang. Mau memonopoli surga.” Ya sudaaah repot.
Karena itulah pengusung paham buram: saya bisa benar, kamu bisa benar, semua bisa benar, toleran, liberal, itu biasanya datang dari mereka yang kuliah di fakultas non-eksak. Filsafat terutama. Karena sudah dibiasakan berpikir seperti itu. Selama masih bisa ngeles ya ngeles terus. Bermain-main opini saja. Mana yang kelihatan paling keren opininya, paling satir, ya wis, itu yang juara! Nggak urus itu ngawur apa nggak.
Balik ke cerita. Setidaknya satu sisi positif dari hasil bergaul dengan teman-teman HTI dan IM adalah, saya mulai tidak alergi dengan penampilan celana cingkrang dan jenggot. Sebab sebagian teman ada yang begitu. meski saya belum tahu alasannya. Mungkin tren.
Nah, kemudian muncullah sebuah pertanyaan besar: Lalu, kalau orang-orang yang di mesjid dekat rumah, yang cingkrang, jenggotan, itu aliran apa ya?
Mulai deh. Sehabis maghrib biasanya kan ada kajian. Sesekali saya coba duduk di teras mesjid, dengerin yang diomongin si ustadz… Oh, ternyata ustadz itu bicaranya tentang tauhid, syirik, sunnah, bid’ah… Kok kayaknya menarik? Belum pernah nih di kampung ada ceramah kayak gini.
Kemudian lain waktu saya mulai masuk deh ikut kajian itu biarpun nggak ada sertifikat. Sehabis maghrib, malam selasa dan malam sabtu. Asli, saya jatuh cinta. Cara ustadznya menjelaskan, terus banyak hal baru yang saya ketahui dan bikin, “Oh, gitu ya? Oh ternyata gitu?”
Berbeda dengan seminar yang kebanyakan seperti bertele-tele, ustadz di mesjid ini langsung ke poinnya. Dan setelah beberapa kali saya ikuti, ternyata bisa disimpulkan tujuan dakwahnya mereka ini sederhana banget: cuma gimana biar bisa ibadah dengan bener, tahu landasannya, bukan ikut-ikutan. Gimana biar kita terasa hidup dekat dengan Nabi dan para sahabat. Udah. Gitu. Simpel banget. Terlalu simpel malahan.
Nggak ada tujuan bikin negara Islam, bikin gerakan rekrut orang, bai’at, kartu anggota, tur ziarah.. Nggak ada.
Cuma diajarkan, udah meng-Esa-kan (mentauhidkan) Allah dengan bener belum? Ibadah kita selama ini udah sesuai dengan tuntunan Rasulullah belum? Wis, tok, til, itu aja.
Mereka tidak punya penamaan seperti IM atau HTI, sebab konon memang nggak punya nama, cuma berdakwah mengajak pada Islam yang murni dan lurus.
Adapun kemudian saya dengar dari orang-orang, bahwa mereka dinamakan wahabi… Ketika saya baca artikel tentang wahabi, itu wuh sadis banget! Konspirasi dengan Inggris, temennya Mamarika, menghancurkan makam Nabi, radikal, ngajarin pegang senjata. Apalagi kalau levelnya sudah utak-atik sejarah, ada buku judulnya Sejarah Berdarah Sekte Wahabi. Kok sangar temen? Padahal realitas yang saya datangi sendiri, nggak ada itu.
Maka terjadi pergolakan besar dalam diri saya. Dimasuki banyak hal-hal yang terasa baru. Wahabi ternyata tidak merayakan maulid, alasannya: soalnya Rasul tidak merayakannya. Simpel banget! Tapi wahabi justru mengajarkan cinta Rasul dengan meneladani beliau. Akhirnya saya tahu, oh, jadi Rasul memerintahkan kain celana di atas mata kaki, pantesan mereka cingkrang.
Saya ragu, apa mau cingkrang juga ya? Duh, nggak keren lagi dong kalau ke kampus. Antara menuruti jiwa muda untuk tampil modis atau menuruti perintah Rasul? Yah kok Rasul nyuruh gini sih? Berat hati. Sebenarnya kalau saya mau menolak, ada jalannya, yaitu embusan dari orang-orang bahwa cingkrang itu ciri teroris, bahwa itu sebetulnya nggak wajib, bahwa jangan terlalu kaku lah dengan dalil, memahami hadits harus dari sudut pandang modern…
Pokoknya opini-opini yang sifatnya menolak dengan cara ngalor-ngidul dulu mencari-cari pembenaran. Sementara wahabi itu simpel banget: Ada dalil, sahih, kerjakan. Tidak ada, tidak perlu dikerjakan.
Tapi yang sederhana begini, masyaAllah… Dihujat di mana-mana. Apalagi di kalangan penulis intelektual filsafat satiris posmodern, seperti jadi musuh bersama.
Wahabi dibilang anti-maulid, tidak cinta Rasul. Padahal saya lihat mereka yang paling meneladani perilaku Rasulullah. Selama di kampung saya nggak tahu kalo Rasul memerintahkan kain celana di atas mata kaki.
Wahabi dibilang tidak mau shalawat. Padahal saya lihat mereka cuma mencukupkan shalawat yang diajarkan Rasul, yaitu shalawat yang biasa dibaca di tahiyat akhir dalam sholat, bukan shalawat hasil ide-ide kreatif.
Wahabi dibilang melarang ziarah kubur, padahal mereka cuma melarang minta-minta sama orang mati meskipun itu wali, bukan ziarahnya yang dilarang.
Juga dibilangnya wahabi mau bikin mazhab baru, padahal pas kajian mereka tetap mengutip pendapat Imam Syafi’, Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Ahmad. Bahkan mereka selalu mengkaji, jika 4 pendapat imam itu berbeda, maka mana yang lebih mendekati sunnah, itu yang diikuti, tanpa merendahkan keilmuan salah satu dari imam mazhab. Jadi nggak asal, kita mazhabnya syafi’i, lalu fanatik, sampai ada yang nggak mau nikah dengan mazhab lain.
Dan semua yang wahabi lakukan, itu karena ada dalil dari Rasulullah. Bukan karena ingin memecah belah atau tampil beda atau merasa benar sendiri yang lain sesat.
Bahkan saya lihat, wahabi itu yang paling banyak mengalah dari keinginannya. Gimana gak ngalah? Perempuannya bercadar, jilbab lebar hitam. Padahal kalo dipikir-pikir, kan enakan islam yang ditawarkan kaum liberal, beragama tapi bebas nggak terikat apa-apa. Nggak mesti jilbaban, dll.
Jadi kalau ingin berislam tapi nggak mau disuruh ini itu, saya sarankan ikut liberal, selalu dikasih solusi untuk ngeles. Anda males pake jilbab, tenang, jadilah liberal, baca Quraish Shihab, ada solusinya, jilbab itu nggak wajib kok, anaknya aja nggak berjilbab. Bahkan Anda akan bisa merasa lebih jumawa dari mereka yang pakai cadar…. Lha perempuan wahabi, udah cadaran, sumuk, kehilangan kesempatan bersolek, eh malah jadi bahan olokan. Kalau bukan karena kecintaan terhadap sunnah, dijamin mereka gak akan sibuk merepotkan diri seperti itu.
Sejak itu saya gak terpengaruh lagi dengan opini orang tentang wahabi, mau dibilang gak cinta Rasul kek, dibilang suka membid’ahkan orang kek, suka mengkafirkan orang, merasa masuk surga sendiri yang lain masuk neraka. Karepmu! Sebab saya tahu, realitasnya tidak seperti itu. Dan memang kalau ikut opini orang, nggak bakal selesai.
Masih ingat kan kisah bapak, anak, dan seekor onta? Ketika anaknya naik onta, sementara bapaknya jalan sambil nuntun tali onta, orang-orang bilang, “Anak durhaka, enak-enakan di atas, Bapaknya disuruh nuntun.” Mendengar itu, anaknya turun, lalu ganti, bapaknya naik onta, anaknya nuntun. Orang bilang, “Bapak gak tahu kasihan, enak-enakan di atas onta, anaknya malah disuruh jalan.” Maka sekarang, anak dan bapak berdua sama-sama naik onta. Orang-orang bilang, “Gak tahu kasian sama binatang, onta kurus gitu kok dinaiki berdua.” Ujung-ujungnya bapak dan anak sama-sama jalan nuntun onta. Eh orang masih bilang, “Mereka berdua itu kok goblok banget, punya onta tapi gak dinaikin malah dituntun aja.”
Gitulah, di mana-mana, opini orang gak bisa dijadikan acuan. Apalagi opini dari ahlul pelintir bahasa, wuh, hebat-hebat, yang insecure lah, sesat sejak dalam pikiran lah, ini lah, itu lah. Berbeda dengan wahabi ketika mengomentari sebuah aliran tertentu, itu bukan pakai opini pelintir bahasa, tapi langsung ke akarnya.
Ketika mengomentari syiah misalnya. Pengusung toleransi semu akan menyeret opini bahwa syiah dan sunni cuma perbedaan mazhab, politis, diseret tentang hak asasi, minoritas, dst.. Kalau wahabi langsung ke kitab induk syiah. Bahwa syiah ini menyimpang karena mengkafirkan mayoritas sahabat, menyebut Abu Bakar & Umar sebagai dua berhala Quraisy, menganggap Aisyah sebagai pelacur, menghalalkan darah nashibi (ahlus sunnah), memiliki Al Qur’an 3x lebih tebal, syahadatnya berbeda, adzannya beda, menghalalkan kawin kontrak, malam kawin pagi cerai… Itu. To the point. Kalau alasan itu diterima, mereka memuji Allah. Tidak diterima, tetap memuji Allah.
Saya pun mulai rajin mengikuti kajian wahabi, bahkan yang jauh-jauh dan ustadznya sampai dari Arab. Semakin banyak perbedaan yang bisa ditangkap secara kasat mata:
Pertama. Di kampung saya, kalau kiyai/ustadz datang, itu kadang tangannya jadi rebutan, dicium-cium sama jamaahnya. Bahkan cara cium tangannya itu bisa dramatis sekali ada teknik-teknik tersendiri. Apalagi kalo yang datang itu level syaikh pondok ini, atau anak keturunan syaikh itu, wuh tambah jadi rebutan.
Berbeda dengan kajian wahabi. Biarpun penceramahnya level ulama paling senior dan sepuh pun, sewaktu ulama itu datang dan jalan ke depan, jamaahnya biasa aja duduk.
Kalau pakai opini orang, kesannya wahabi tidak menghormati ulama. Padahal saya melihat, mereka menghormati ulama ya karena ilmunya, bukan karena fisiknya atau keturunan siapa, jadi tidak lebay rebutan cium tangan, apalagi seolah mengkultuskan rebutan air liur, diyakini mustajab, hiii.
Wahabi itu nggak pernah nyebut-nyebut syaikh siapa jadi doa berjamaah, bikin haul. Nggak pernah. Sebab mereka beneran cuma menghargai ilmu, tidak berlebihan terhadap tokoh… Beda di kampung saya, fatihah ila hadarotin syaikh ini, syaikh itu, diulang-ulang tiap ada selamatan, tapi orang-orang nggak tahu syaikh itu siapa sih? Buku kitabnya apa? Nggak ada. Pokoknya kiyai nyebut syaikh itu tiap selamatan, ya sudah sampe turunannya tetap nyebut syaikh itu. jamaahnya ya amin-amin saja terus makan rawon.
Yang kedua. Yang namanya pengajian, di kampung saya biasanya identik dengan nyanyi-nyanyi, baca Al Fatihah, awal Al Baqoroh, ayat kursi, sholawat apa gitu panjang, baru setelah itu ada ceramah. Kalo di wahabi, ustadznya datang, duduk, langsung membuka materi dg khutbatul hajah, lalu mengajar, ada istirahat, tanya jawab, abis itu selesai, pulang. Nggak ribet.
Yang ketiga. Kalo di kampung saya, segala jenis ibadah wis tinggal nyontoh saja, kalo ngaji maghrib itu kadang ada pelajaran sholat dari kiyai, ya sudah langsung baca aja rame-rame dari usholli sampai salam. Tapi di wahabi itu ilmiah sekali, tidak asal ikut ustadznya, melainkan diajari memahami bahwa setiap gerakan sholat itu dilakukan karena ada contohnya, kita melakukan ibadah karena memang ada riwayatnya dari Rasul. Kalau nggak ada riwayatnya, ya nggak perlu repot-repot dikerjakan. Sehingga ketika sholat, setiap gerakan kita terasa dekat dg Rasulullah sebab tahu ada rantai yang bersambung.
Hal lain juga. Saya jadi tahu, misalnya, Allah mengampuni semua dosa kecuali dosa syirik. Dosa syirik tidak akan diampuni kalau pelakunya mati sebelum sempat bertobat. Sebab dosa syirik itu paling besar, paling bahaya, sehingga kita mesti tahu cabang-cabangnya. Bahwa perdukunan itu syirik, meyakini hari sial itu syirik, minta-minta ke orang mati itu syirik, jimat itu syirik, ada syirik besar dan syirik kecil, harus waspada dan selalu mengoreksi diri sendiri.
Sejak itu, ngeri lah karena ternyata banyak keyakinan saya selama ini tergolong syirik, seperti keyakinan kalo nabrak kucing berarti sial, pergi gak boleh hari jumat, dst…. Kalau di kampung saya, yang dimaksud syirik ya menyembah patung berhala. gitu aja. Mana ada hari ini orang islam sekonyol itu nyembah patung? Kalau dosa syirik cuma sebatas nyembah patung, alangkah mudahnya itu dihindari?
Apalagi pas tahu banyak hal yang selama ini biasa saya lakukan, ternyata bid’ah, tidak diajarkan Rasul. Saya yang sudah telanjur ngefans dengan sholawat nariyah dan hapal di luar kepala sejak ngaji jaman SD, kaget lho jadi sholawat nariyah itu bid’ah? Sempat gak terima. Tapi tumbuhnya kecintaan untuk mengenal, “Jadi, islam yang aslinya sesuai Nabi itu gimana?” Itu membuat saya rela untuk melepas atribut kefanatikan dan segala hal yang sudah diyakini sejak kecil. Seandainya saya sudah anti sejak awal, kan bisa dengan mudah mudah langsung saya cap, “Wo, wahabi itu menyalah-nyalahkan orang, masak sholawatan aja nggak boleh.”
Saya lalu menyadari, faktor penting orang sulit menerima kebenaran, adalah karena kebenaran itu menghantam keras pada apa yang sudah diyakininya selama ini sebagai kebenaran.
Sama, di masa jahiliyah dahulu, Sebelum Muhammad diangkat sebagai Nabi, beliau sudah digelari Al Amin (yg bisa dipercaya) oleh kaumnya, sebab memang sangat dipercaya, sampai-sampai jika Muhammad berkata, “Ada pasukan musuh di balik gunung ini.” Maka mereka percaya. Tapi setelah mendapat wahyu, mengajak untuk menyembah Allah saja, yang mana itu menghantam keras pada keyakinan kaum Quraisy saat itu, langsung berubah mereka menjuluki Rasulullah jadi Majnun, tukang sihir…
Maka dari itu, ketika ada yang bilang wahabi merasa benar sendiri, itu aneh. Sebab wahabi itu justru orang yang mau mencari kebenaran meski konsekuensinya berat karena harus meninggalkan kebiasaan masa lalu yang sudah dianggap sebagai kebenaran… Kalau sejak awal merasa sudah yakin paling benar, tentu mereka akan tetap dengan keyakinan agama kakek moyang selama ini, nggak mau diingatkan tentang syirik, bid’ah dan lain sebagainya.
Nah. Pada akhirnya, saya salut terhadap mereka ini, yang ikhlas mengajak masyarakat untuk kembali ke agama yang murni, mengingatkan orang bahaya syirik, bahaya bid’ah, meskipun dihujat banyak orang, dituduh sesat, macem-macem. Terserah orang lain menamai mereka wahabi, atau seburuk apapun, itu cuma nama saja, tidak mengubah hakikat…
Tapi anggap saja penamaan wahabi diterima. Coba cek di media netral seperti wikipedia.https://id.wikipedia.org/wiki/Wahhabisme, lalu baca, di mana penyimpangannya? Kenapa kok dimusuhi banget?
Saya juga ingin terus belajar. Semoga kita semua mendapat petunjuk untuk mencari hidayah. Hidayah datang dari Allah. Kita mencari kebenaran bukan untuk menyalah-nyalahkan orang.
Selama seseorang ikhlas untuk terus mencari agama Allah yang lurus dan menempuh jalan-jalannya, maka akan disampaikan ke tujuannya.
— Kopas dari status kawan FB

Sabtu, 02 Juli 2016

Seal Offline Job 2 Complete

Selamat malam sahabat,
kali ini saya akan share game Seal Online, tentunya ini bukan game online melainkan game dari online menjadi offline.
Baiklah tanpa berlama-lama lagi jadi langsung saja.
pertama anda download dulu file dibawah ini.
File nya berukuran 1,6 gb.
dan di dalamnya sudah lengkap semua mulai dari client, database, server, tools, fix problem, dll. Jadi anda tinggal ikuti saja video tutorial yang terdapat dalam file tersebut.
Tested  by me in windows 7 ultimate 32bit.
ini Screenshootnya.

Seal Offline Job 2 Complete
Seal Offline Job 2 Partial
1. Tutorial
2. Server + Host
3. Web
4. Launcher
5. Tutorial Lanjutan
6. File Lanjutan
7. GameGuard Offline
8. GM Tools
9. Tools
10. Troubleshoot
Solidfiles

sumber : http://goyashare.blogspot.com/2016/01/seal-offline-job-2-complete.html

Selasa, 07 Juni 2016

Perang Qadisiyah Tahun 14 Hijriyah


Setelah kabar kekalahan kaum muslimin pada perang jembatan  sampai ke Madinah, Umar bin Al Khaththab radhiyallahu ‘anhu menyemangati tentara Islam untuk berjuang di Irak dan Persia. Umar sendiri membentuk pasukan di luar kota Madinah, sehingga banyak sekali kaum muslimin yang ikut bergabung untuk berjihad. Umar berkeinginan memimpin sendiri pasukan perang tersebut, tetapi beberapa sahabat memintanya untuk tetap tinggal di Madinah dan mengutus Sa’ad bin Abi Waqqash. Mereka meminta Umar untuk tetap tinggal di Madinah, agar dia mampu mengirimkan bantuan ke Iraq atau daerah lainnya, jika itu diperlukan.[1]


Setelah adanya perintah, sempurnalah mandate kepada Sa’ad bin Abi Waqqash untuk memimpin pasukan berjihad di Iraq. Umar juga memberikan perintah kepada sisa tentara Islam yang masih ada di Iraq di bawah pimpinan Al Mutsanna untuk bergabung di bawah pimpinan Sa’ad.[2]

Akhirnya Sa’ad sampai ke Iraq dengan membawa 4 ribu orang pasukan. Jarir bin Abdullah Al Bajali radhiyallahu ‘anhu lalu bergabung dengan tentara kaum muslimin, sedangkan Mutsanna bin Haritsah meninggal dunia karena lukanya sebelum Sa’ad sampai ke Iraq. Namun, sebelum meninggal dunia Al Mutsanna radhiyallahu ‘anhu telah meninggalkan pesan penting untuk Sa’ad, tentang bagaimana memerangi Persia dan jalan terbaik untuk mengalahkan mereka.[3]
Sa’ad bersama tentara Islam lalu mendirikan kemah di daerah Al Qadasiyah selama hampir satu bulan, sehingga jumlah pasulan mencapai sekitar 30 ribu orang mujahidin. Persia pun telah mempersiapkan pasukannya hingga mencapai jumlah sekitar 120 ribu pasukan. Raja Persia juga telah memilih jenderalnya yang terkenal, Rustum untuk memimpin pasukan melawan tentara Islam. Rustum  dan Raja Persia berusaha memberikan ampunan kepada Sa’ad tetapi Sa’ad tetap bertahan memimpin tentara Islam. Melihat hal itu, Rustum pun bergerak hingga mendekati perkemahan tentara Islam di Al Qadasiyah.[4]
Berlangsunglah beberapa kali perundingan antara tentara Islam dan pasukan Persia, sebelum perang meletus. Rustum meminta tentara Islam untuk mengirimkans eorang utusan untuk berunding dengannya secara langsung. Utusan yang dikirimkan oleh Islam adalah Rib’i bin Amir yang terkenal sebagai perunding dari kubu kaum muslimin. Dalam melakukan pertemuan itu, Rustum melakukan beberapa persiapan, antara lain, menyiapkan singgasananya yang dibanggakan, dan menghiasinya dengan bantal-bantal yang dipoles dengan emas dan sutra. Dia juga memamerkan perhiasannya, meletakkan beragam perhiasan yang dibentangkannya dan dilingkari emas dan perak. Rustum lalu duduk ditengah-tengah perhiasan itu di atas ranjang dari emas.
Rib’i menemui Rustum dengan baju yang sudah lusuh dan bertambal, membawa pedang dengan santun dan menaiki seekor kuda kecil. Ketika Rib’i sampai ke tempat Rustum, dia masuk dengan mengendarai kudanya sehingga kuda itu menginjak kain-kain sutra itu, lalu dia mencabut (mengambil) sedikit kain sutra yang terbentang itu dan mengikatkannya ke kudanya, setelah itu dia menghadap kepada Rustum sambil membawa pedang kecilnya.
Orang Persia itu lalu berkata, “Letakkan pedangmu!” Rib’i  menjawab, “Aku datang bukan dengan keinginanku sendiri, tetapi ini atas undangan kalian. Maka biarkanlah aku sesukaku, atau aku akan kembali pulang!” Rustum lalu memerintahkan bawahannya untuk membiarkan Rib’i. Rib’i  menhadap Rustum sambil bersandar pada tombak yang ditancapkan di atas karpet dan bantal itu, sehingga sebagian bantal itu rusak. Lalu Rustum mulai berbicara, “Apa yang membuat kalian (kaum muslimin) datang kemari?” Rib’i menjawab, “Allah telah memerintahkan kami untuk mengeluarkan orang yang Allah kehendaki, dari penyembahan terhadap makhluk menuju penyembahan kepada Allah. Dan untuk mengeluarkan manusia dari sempitnya dunia menuju keluasannya. Untuk mengeluarkan manusia dari kezhaliman agama-agama yang ada menuju keadilan Islam. Maka kami diutus dengan Agama-Nya kepada mahluk-Nya, agar kami menyeru mereka kepada agama-Nya. Jika mereka mau menerima Islam, maka kamu pun menerima mereka dan meninggalkan mereka (tidak memerangi mereka). Akan tetapi jika mereka menolak, kami pun akan tetap memerangi mereka hingga kami mendapatkan janji Allah.”
Rustum berkata, “Apa yang telah dijanjikan oleh Allah?” Rib’i menjawab, “Surga bagi mereka yang meniggal ketika memerangi mereka yang menolak, dan kemenangan bagi mereka yang hidup.” Rustum berkata, “Apakah kalian dapat menunda masalah ini (perang) sampai kami mempertimbangkannya?” Rib’i menjawab, “Baiklah, kami akan memberi tenggang kepada kalian selama tiga hari.” Lalu Rustum memintanya lebih dari tiga hari. Maka Rib’i berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah mengajari kami untuk memberi waktu tenggang kepada musuh lebih dari tiga hari.” Kemudian Rustum berkata kepada Rib’i, “Apakah kamu jenderal kaum muslimin?” Rib’i menjawab, “Tidak, aku bukan jenderalnya, tetapi kaum muslimin itu seperti satu tubuh, bagian bawahnya bersatu dengan bagian atasnya.” Setelah itu Rustum mengumpulkan komandan perangnya, dia mendiskusikan apa yang dikatakan oleh Rib’i kepada mereka.  Akhirnya mereka memutuskan untuk perang melawan tentara Islam, mereka tidak mau memeluk Islam, atau membayar jizyah (pajak). Dua belah pihak pun akhirnya bersiap-siap untuk melangsungkan pertempuran.”[5]
Berkecamuklah peperangan yang sengit antara tentara Islam dan pasukan Persia, namun ketika itu Sa’ad bin Abi Waqqash  terkena penyakit bisul yang menjadikannya tidak mampu mengendarai kuda, untuk itu dalam mengontrol tentara kaum muslimin, Sa’ad memberikan komando dari atap sebuah rumah.[6]
Pasukan Persia pada perang ini telah menyiapkan sejumlah gajah karena keefektifannya pada perang jembatan sebelumnya, yang membawa kemenangan di pihak mereka. Pada hari pertama, gajah berhasil memberikan dampak positif bagi pasukan Persia, karena kuda-kuda tentara Islam menjadi takut dan tidak berani untuk bergerak maju.
Oleh sebab itu, beberapa tentara Islam pemberani bergerak maju dengan berjalan kaki, tanpa tunggangan kuda. Mereka pun berhasil, meskipun itu sangat membahayakan diri mereka, mereka dapat menjatuhkan penunggang-penunggang gajah dan para komandonya. Dengan demikian, gajah-gajah itu tercerai berai sehingga pengaruhnya terhadap tentara Islam berkurang. Korban jatuh dari pihak Islam di hari pertama perang berjumlah lebih dari 500 orang syahid, dan hari pertama perang tersebut dijuluki sebagai hari Armats.[7]
Pada pagi hari berikutnya, atau hari kedua peperangan, datanglah bantuan dari tentara Islam yang bergerak dari negeri Syam atau perintah Umar bin Al Khaththab Radhiyallahu ‘anhu. Tentara Islam tersebut dipimpin oleh Hasyim bin Utbah bin Abu Waqqash radhiyallahu ‘anhu. Pasukan tersebut dikepalai oleh Al Qa’qa bin Amr At Tamimi. Al Qa’qa’ membagi pasukannya ke dalam kelompok-kelompok berisi sepuluh orang tentara. Tujuannya agar pada setiap serangan yang telah ditentukan waktunya, jumlah pasukannya tetap. Mereka sengaja menerbangkan debu yang banyak, agar menjadikan musuh mengira bahwa jumlah tentara Islam sangat banyak. Kedatangan bantuan yang datang secara beransur-ansur dan memerlukan waktu yang lama, telah menjadikan pasukan Persia takut. Dilain pihak, tekad tentara Islam semakin kuat. Keuntungan psikologis tersebut memungkinkan Al Qa’qa dan pasukannya untuk masuk ke tengah-tengah medan perang dan memudahkannya membunuh beberapa pemimpin besar Persia. Untuk menhindari debu yang berterbangan, tentara Islam mengikatkan diri dengan unta-unta yang mereka naiki. Mereka menutupi unta mereka dengan kantong dan mengarahkan unta-unta ke arah kuda-kuda pasukan Persia. Pasukan Persia pun berlarian. Pada hari itu tanda-tanda kemenangan tentara Islam telah terlihat. Hari itu kemudian disebut dengan hari Agwats (bala bantuan), karena bantuan untuk tentara Islam telah datang.[8]
Pada pagi hari berikutnya, yaitu hari ketiga peperangan, atau hari Umas, dimulailah perang untuk kesekian kalinya antara tentara Islam dan pasukan Persia. Pada hari itu, pasukan Persia kembali memanfaatkan tenaga gajah. Gajah-gajah tersebut berhasil melukai banyak tentara Islam. Akan tetapi para pemberani dari tentara Islam tetap kokoh menyerang kawanan gajah tersebut dan melawannya. Mereka menyerang mata gajah dan belalainya, sehingga gajah-gajah tersebut lari meninggalkan medan perang. Pada hari ini, mulailah kubu Islam lebih unggul setelah tentara Islam diuji dengan ujian yang baik. Menjelang malam, perang masih sengit berkecamuk, sehingga perang pun terus bergulir dalam kegelapan malam. Tentara Islam pun terus menyerang seperti perjuangan para pahlawan. [9] Tidak ada yang terdengar pada malam itu, kecuali suara pedang beradu. Malam itu lalu dikenal sebagai malam (Al Harir).[10] Tentara Islam pun mendapatkan ujian yang baik. Fajar pun menyingsing, tetapi perang tak kunjung selesai sehingga waktu dzuhur tiba, ketika pasukan Persia mulai melarikan diri dari medan perang. Tak terkecuali Rustum, sang pemimpin pasukan Persia, turut berusaha lari untuk menyelamatkan diri, nama usaha Rustum gagal, karena seorang tentara Islam pemberani mengejarnya dan membunuhnya. Pemimpin-pemimpin pasukan Persia yang lain pun turut terbunuh. Diakhir perang, kemenangan telah menemani tentara Islam. [11]
Perang ini adalah perang terpenting yang melibatkan pasukan Persia dan tentara Islam, karena dalam perang tersebut, tergabung pasukan terbaik Persia. Kekalahan yang diderita Persia ini memberikan efek yang sangat besar terhadap hancurnya keyakinan yang dimiliki Persia. Setelah perang tersebut tentara Islam mampu merebut kembali daerah-daerah yang dikuasai oleh Persia, setelah sempat dikuasai Islam. Tentara Islam pun sudah bisa mempersiapkan pembebasan kota-kota lain. Dari perang ini pula tentara Islam berhasil memperoleh banyak sekali ghanimah dan senjata yang dapat dimanfaatkan untuk membuka daerah baru.

Dikutip dari: Penaklukan Dalam Islam, DR.Abdul Aziz bin Ibrahim Al Umari, Penerbit Darussunnah
Note:

[1] Al Baladziri, Futuh Al Buldan 255. Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari 4/83, Ibn Al Atsir, Al Kamil 2/450
[2] Khalifah ibn Khayyath, Tarikh Khalifah Ibn Khayyath 129. Al Baladziri, Futuh Al Buldan 255. Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari 4/83, Ibn A’tsam Al Kufi, Al Futuh 1/73, Ibn Al Atsir, Al Kamil 2/451
[3] Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari 4/88, Lihat pula: Khalifah ibn Khayyath, Tarikh Khalifah Ibn Khayyath 129, Al Baladziri, Futuh Al Buldan 256, Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari 4/86, Ibn Al Atsir, Al Kamil 2/451
[4] Al Baladziri, Futuh Al Buldan 256, Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari 4/81
[5] Lihat lebih detail cerita mengenai Rib’i  bin Amir bersama Rustum dalam kitab Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari 4/106, Ibn Al Atsir, Al Kamil 2/463
[6] Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari 4/113
[7] Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari 4/119, Al MAs’udi, Muruj Adz Dzahab 2/321, Ibn Al Atsir, Al Kamil 2/469
[8] Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari 4/120, Ibn Al Atsir, Al Kamil 2/473, Ibn A’tsam Al Kufi, Al Futuh 1/161
[9] Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari 4/124, Ibn Al Atsir, Al Kamil 2/477
[10] Ath Thabari, Tarikh Ath Thabari 4/132, Ibn Al Atsir, Al Kamil 2/479
[11] : Khalifah ibn Khayyath, Tarikh Khalifah Ibn Khayyath 132, Al Baladziri, Futuh Al Buldan 259

Artikel: www.KisahIslam.net

Senin, 30 Mei 2016

Udang Di Balik Jubah Bangsa JIN

Sepanjang sejarah Islam, orang-orang munafiq dan juga para modifikator sunnah-sunnah Nabi ‘alaihissalam, telah menjadi biang utama kemunduran dan kekalahan Ummat Islam.
Kaum munafiq telah membuktikan peran keji mereka terhadap kaum muslimin, semisal yang terjadi pada saat jatuhnya kota Baghdad, ibu kota Baghdad ibu kota Khilafah Abbasiyah, ke tangan kaum Tar-tar, yaitu pada tahun 656 H.

Pada awalnya kaum Tar-tar merasa gentar untuk menyerbu kota Baghdad. Namun setelah terjadi korespondensi antara mereka dengan salah seorang seorang tokoh Syi'ah, yang bernama Wazir Muayyiduddin Muhammad bin Ahmad Al Qummy, maka merekapun memberanikan diri untuk menyerbu kota Baghdad. Kebetulan kala itu pengkhinata yang beragama Syi’ah ini berhasil menyusup ke dalam selimut Ummat Islam dan menjabat sebagai salah seorang pejabat tinggi di dinasti Abbasiyyah.
Akibat dari persekongkolan ini akhirnya terjadilah lembaran pilu yang panjang lebar, yaitu runtuhnya dinasti Abbasiyah. Demikian dikisahkan oleh Imam Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah wa An Nihayah, jilid 13, hal: 213
Sebelumnya, sejarah kaum muslimin juga telah membuktikan bahwa orang-orang Syi’ah juga telah melancarkan perkhianatan keji lainnya. Lagi –lagi lembaran sejarah Islam telah dinodai oleh perbuatan keji sekte Qaramithah, yaitu salah satu sekte yang berafiliasi kepada sekte Syi’ah.
Dibawah kepemimpinan Abu Thahir Al Qirmith, mereka membantai kafilah-kafilah jama'ah haji, merampas seluruh harta perbekalan mereka.
Lebih mengenaskan lagi, pada musim haji tahun 317 H, mereka menyerang kota Makkah, dan membantai jamaah haji, kemudian membuang mayat-mayat mereka ke sumur Zam-zam. Belum cukup sampai di sini, salah seorang dari mereka mencongkel hajar aswad, sambil berkata: "Dimanakah burung Ababil?! Dimanakah bebatuan dari Sijjil?!( )
Lalu mereka membawa pergi Hajar Aswab ke kampung halaman mereka di daerah Bahrain.
Selama 22 tahun, Hajar Aswad berada dalam kekuasan mereka, sehingga selama itu pula, ketika berthawaf mengelilingi Ka'bah, kaum muslimin tidak dapat mencium Hajar Aswad. Demikian Imam Ibnu Katsir mengisahkan kisah pengkhianatan mereka, dalam kitabnya Al Bidayah wa An Nihayah, oleh Imam Ibnu Katsir 11/172
Nampaknya, inilah salah satu alasan mengapa bangsa JIN, dan yang serupa dipelihara, guna mengemban tugas melemahkan kekuatan kaum muslimin, serta mengobarkan perpecahan di tengah-tengah mereka.
Sebagaimana mereka juga bertugas menjalankan pengabdian kepada cukong-cukong mereka yang telah menggelontorkan dana besar-besaran kepada mereka, yaitu bangsa JIN, agar program salibisasi di bumi Nusantara, dapat melenggang dengan kencang.
Ya Allah, kami beriman kepada firman-Mu:
وَمَكَرُواْ وَمَكَرَ اللّهُ وَاللّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya. (Ali Imran 54)

sumber : ustadz Dr Muhammad Arifin Badri

Senin, 23 Mei 2016

Download Fantasy Adventure Online Version Offline

Saya akan sharing salah satu game buatan saya.

TERMS
Dengan mengunduh, menginstall, menggunakan, maupun menyebarkan file yang ada dalam web ini, berarti anda telah membaca dan menyetujui Terms Of Service dan semua aturan yang berlaku pada website ini. Jika anda tidak menyetujui ketentuan dan aturan yang berlaku dalam website ini, maka jangan mengunduh, menginstall, menggunakan, maupun menyebarkan file-file yang ada dalam website ini.



File Name : FAO Offline V.2.exe
Size :108 MB
 Download



Petunjuk Instalasi versi Full Client:
Jalankan file FAO Offline V.2.rar untuk melakukan extract.
Pilih folder yang diinginkan, misal C:\Installer
Baca Tutorial Play.txt untuk petunjuk bermain Fantasy Advanture Online Offline.

Minggu, 22 Mei 2016

Cara Membuat File Installer

Hallo sobat . Kalian pastinya sering kan meng install program atau yang lainnya. Saat meng install sobat akan buka installer-nya kan ? Itu lho yang berekstensi exe (.exe)

Nah kali ini kami akan men-sharing bagaimana caranya membuat installer itu, caranya mudah. Ada dua cara yaitu menggunakan Inno Setup Compiler dan Winrar.



Inno Setup Compiler


1.   Download software Inno Setup Compiler di SINI.
2.   Install seperti biasa.
3.   Buka aplikasinya dan pilih "Create a new empty script file" (Ctrl + N).
      Lalu Klik Next.
Tips : Ctrl + Klik gambar bila tidak jelas


4.   Lalu isikan tentang spesifik program.
Tips : Ctrl + Klik gambar bila tidak jelas

5.   Biarkan default isi destinasi program.
Tips : Ctrl + Klik gambar bila tidak jelas

6.   Pilih Tempat aplikasi yang ingin di jadikan installer.
      -Kalau yang ingin di jadikan Installer adalah File Program Berformat (.exe) atau yang lainnya
       pilih "Browse" saja.

      -Kalau yang ingin di jadikan Installer adalah Folder Chek Box "The application doesn't have a           main executable file".
Tips : Ctrl + Klik gambar bila tidak jelas

7.   Lalu ada beberapa futur saat installer terbuka next saja (kalau yang lain di chek box juga gpp).
Tips : Ctrl + Klik gambar bila tidak jelas

8.   Bagian ini adalah bagian tentang program tersebut yaitu License, Informasi sebelum instalasi,             Informasi sesudah instalasi.
Tips : Ctrl + Klik gambar bila tidak jelas

9.   Bagian selanjutnya adalah futur tentang bahasa pada program Instaler yang akan di buat.
Tips : Ctrl + Klik gambar bila tidak jelas

10. Bagian ini adalah tentang basic installer.
Tips : Ctrl + Klik gambar bila tidak jelas

      -"Custom compiler output folder" adalah tempat hasil dari compiler file atau folder yang ingin            di jadikan installer.
      -"Compiler output base file name" adalah nama installer yang nanti akan di buat.
      -"Custom setup icon file" adalah icon file installer.
      -"setup password" adalah password saat instalasi di lakukan.
11. Chek Box saja pada bagian "Yes, use #define compiler directives"
Tips : Ctrl + Klik gambar bila tidak jelas

12. Dan pembuatan installer siap untuk di compiler, klik saja finish
Tips : Ctrl + Klik gambar bila tidak jelas


       Q : Lho ? Kok hasil pembuatan instalernya mana malah tulisan - tulisan gak jelas.
       A : Tenang itu script untuk pembuatan installernya.
       Q : Terus bikin installernya gimana ?
       A : Nih gw kashi tau.

13. Di bagian atas ada gambar Kertas terus ada Compilernya (yang bentuknya kaya gear warna hijau)       klik aja itu dan tunngu sampai selesai.
Tips : Ctrl + Klik gambar bila tidak jelas


Nah di atas adalah cara membuat installer memnggunakan inno setup compiler.
Yang ini menggunakan WinRar.

Caranya ikutin nih bro... heheh udah bosen yah panjang amat tutorialnya...udah sekali lagi nih
mudah - mudahan bermanfaat lets go...

1. Masuk ke Windows Exploler dan masuk ke Direktory folder yang akan di jadikan setup installer.
2. Block semua file yang ingin di jadikan installer.
Tips : Ctrl + Klik gambar bila tidak jelas

3. Klik kanan, lalu pilih "add to archive...".
4. Pada bagian "update mode" pilih Chek Box "Create SFX archive"
Tips : Ctrl + Klik gambar bila tidak jelas

5. Lalu menuju Tab "advance" dan pilih "SFX options..." nah di situ ada beberapa fitur yaitu

Tips : Ctrl + Klik gambar bila tidak jelas
"General"
-"Path to extract" menunjukan lokasi dimana file nanti akan disimpan.
-"Setup program" ada dua bagian. Pada bagian "Run after extraction" adalah opsi file yang akan di jalankan saat extract selesai. Pada bagian "Run before extraction" adalah opsi file yang akan di jalankan sebelum extract dilakukan.

"Advance"
-"Delete" yaitu opsi yang akan menghapus file setelah extract dilakukan.
-"Shortut" yautu opsi yang akan membuat shortcut setelah extract.

"Modes"
Berisi Metode Extrack apakah di Ekstrack ke Temporary Folder ataupun Di Extrack secara sembunyi "Silent". Apabila anda memilih Unpack To Temporary Folder  anda dapat membuat Pertanyaan Apakah file akan diekstrack pada Optional Questions dan pada Question Title isikan Judul Pertanyaan sobat. 

Pada tab "Update", text and "Icon", "License", dan "Modul" silahkan dikembangkan sendiri.

6. Setelah setting SFX options selesai klik ok
7. Sobat juka dapat menyeting file installer tersebut dengan mengatur melalui tab Options, File,             Backup, Time,dan juga Comment.
8. Setelah selesai menyetting klik ok untuk melakukan proses pembuatan intaller tersebut.
Tips : Ctrl + Klik gambar bila tidak jelas

9. Selesai deh pembuatan installer nya sob.


 sumber : di sini








NOTE : Lama proses pembuatan istalernya tergantung ukuran file/folder yang ingin di jadikan installer

Musuh Dalam Selimut Bukan Musuh Yang Berselimut

Sobat keberadaan musuh dalam selimut tuh nyata, bahkan jauh-jauh hari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan peringatan akan keberadaan musuh dalam selimut. Bahkan menurut beliau, keberadaan musuh dalam selimut tersebut lebih berbahaya dibanding musuh-musuh yang nyata-nyata kafir, berbeda agama.

Musuh dalam selimut, rupa serupa, perilaku juga terkesan serupa, namun jiwanya tidak sama. Mereka bahagia bila ummat Islam sengsara, dan mereka juga bangga bila orang-orang kafir berjaya atau selamat.

Sahabat Tsauban radliallahu 'anhu menuturkan : Rasulullah e bersabda : “Sesungguhnya Allah telah menggulung bumi dan menunjukkannya kepadaku, sehingga aku dapat melihat bumi belahan timur dan barat. Sesungguhnya kekuasaan ummatku akan sampai ke semua belahan bumi yang tunjukkan untukku. Aku juga diberi dua harta simpanan; satu berwarna kemerahan dan yang lain berwarna putih (kerajaan Persia dan Romawi). Aku memohonkan kepada Tuhanku agar ummatku tidak dibinasakan dengan cara ditimpa paceklik yang merata, dan agar mereka tidak dikuasai oleh musuh yang dapat menghabisi seluruh kekuasaan kaum muslimin, selain musuh dalam selimut, yaitu dari kalangan mereka sendiri. Dan Tuhanku telah berfirman kepadaku :

يا محمد، إنِّي قضيت قضاءً فإنَّه لا يُرَدَّ، وإِنِّي أعطيتك لأمتك أن لا أهلكهم بسنة بعامة، وأن لا يسلِّط عليهم عدوّاً من سوى أنفسهم فيستبيح بيضتهم، ولو اجتمع عليهم مَنْ بأقطارها، حتى يكون بعضهم يهلك بعضاً، ويسبي بعضهم بعضاً
“Wahai Muhammad, sesungguhnya bila Aku telah memutuskan sesuatu keputusan, maka tidak bisa ditolak. Aku telah mengabulkan permintanmu untuk umatmu; agar Aku tidak membinasakan mereka dengan paceklik yang merata, dan agar mereka tidak dikuasai musuh, yang kuasa menghabisi seluruh kekuasaan kaum muslimin, selain musuh dari diri mereka sendiri (musuh dalam selimut). Sekalipun seluruh penduduk dunia bersekongkol memerangi mereka, kecuali bila kaum muslimin telah saling menghancurkan dan memenjarakan sesama mereka sendiri”. (Imam Muslim)
Bahkan Allah Ta’ala telah terlebih dahulu telah memberikan peringatan tersebut, pada firmannya:
وَأَعِدُّواْ لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدْوَّ اللّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لاَ تَعْلَمُونَهُمُ اللّهُ يَعْلَمُهُمْ وَمَا تُنفِقُواْ مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لاَ تُظْلَمُونَ
Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (Al Anfal 60)
Dua dalil di atas, membuktikan bahwa pola menghancurkan ummat dengan menyusup tuh bukan hal yang baru, dan bukan hal yang aneh bin ajaib. Karenanya, waspada tuh bukan hanya dari musuh yang dari luar saja, tapi waspada dari musuh dalam selimut juga perlu.
Musuh dalam selimut tuh, di siang hari bersama kita namun di malam hari mereka segera menyusun laporan kepada juragannya. Hobi mereka ialah menjadi juru bisik, dan juru usik agar ummat Islam centang berentang dan akhirnya saling gebug dan ujung-ujungnya hancur. Hobinya adu-adu antara ummat Islam, adu ustad, adu kelompok ummat, adu tokoh ummat, dan adu adu lainnya.
Eeh, iya, status ini bukan untuk menghasut dan mengobarkan kecurigaan, namun semata seruan untuk waspada dan membuka mata tentang adanya potensi tukang bisik berbulu musang dan berhati serigala.

sumber: ustadz DR Muhammad Arifin Badri